Kita semua tidak tahu, ketika tangan-tangan kita menulis sejarah hidup kita sendiri, kemana akhirnya semua akan dibawa. Semuanya hanyalah kedangkalan. Tiba-tiba seorang pemikir terseret dalam arus yang aneh. Menjadikan dia seperti remaja yang gundah, penuh amarah, dan berkelakuan membingungkan. Ada yang berubah, seperti perubahan kecebong menjadi kodok. Tidak ada sisa-sisa hewan kecil itu sedikitpun. Ekor kebijaksanaannya hilang. Mata teduhnya berubah membesar. Tumbuh kaki-kaki kejahatan dan tangan kebencian.
Oh, kecebong yang dulu begitu polos dalam kehidupan. Kecebong dalam diri dan pikiranku. Mengapa kamu harus bermetamorposa menjadi kodok yang ganas menangkap serangga. Siapa yang menistai kamu sehingga engkau berubah menjadi seekor katak mengerikan yang engkau sendiri jadi takut terhadap dirimu. Diam-diam engkau berdoa, semoga malam ini engkau kembali menjadi kecebong yang, meskipun bodoh, tetapi tidak sanggup melakukan kenistaan.
Siapa yang dapat mendudukan ini semua pada putaran sebenarnya putaran yang tanpa prasangka. Semuanya ditutupi kegelapan. Sebuah sandiwara dengan pemain yang sedemikian berbakat. Dan kepolosan seekor kecebong harus terjerembab dalam tipuan-tipuan kecil. Muslihat-muslihat yang sedemikian halus. Tapi, begitu seronok dipertontonkan.
Adakah kejahatan sebenarnya? Siapakah yang jahat. Seekor kecebong yang terluka atau pemain sandiwara yang dengan enteng menyayat kulit halus kecebong itu? Sehingga dari kulit halusnya itu menyembul semacam daging yang menggumpal dan mengeras. Daging itu tumbuh, dan terus tumbuh. Membentuk mahluk mengerikan yang diam-diam menyimpan sakit hati dalam dirinya.
Kodok itu terus menerus berdoa semoga dia tidak berubah menjadi monster. Sebab seringkali kepalanya dihantam palu godam. Dia menahannya agar kepalanya itu tidak pecah dan menyembul tanduk bercabang tiga yang mengerikan.
“Semua hanya sandiwara,” katamu. Kamu mungkin mengutip kata-kata dalam bait lagu-lagu lama. “Jika kita menghayati peran masing-masing, kita akan tumbuh menjadi pribadi dalam peran itu. Sementara pribadi kita yang asli, yang diam-diam kita rindukan untuk tumbuh dan membesar, tertutup oleh sandiwara kita sendiri.”
Aku hanya berharap, sedikit cahaya untuk keluar dari kegelapan…

Recent Comments