Kecebong Luka

•November 16, 2009 • Leave a Comment

Kita semua tidak tahu, ketika tangan-tangan kita menulis sejarah hidup kita sendiri, kemana akhirnya semua akan dibawa. Semuanya hanyalah kedangkalan. Tiba-tiba seorang pemikir terseret dalam arus yang aneh. Menjadikan dia seperti remaja yang gundah, penuh amarah, dan berkelakuan membingungkan. Ada yang berubah, seperti perubahan kecebong menjadi kodok. Tidak ada sisa-sisa hewan kecil itu sedikitpun. Ekor kebijaksanaannya hilang. Mata teduhnya berubah membesar. Tumbuh kaki-kaki kejahatan dan tangan kebencian.

Oh, kecebong yang dulu begitu polos dalam kehidupan. Kecebong dalam diri dan pikiranku. Mengapa kamu harus bermetamorposa menjadi kodok yang ganas menangkap serangga. Siapa yang menistai kamu sehingga engkau berubah menjadi seekor katak mengerikan yang engkau sendiri jadi takut terhadap dirimu. Diam-diam engkau berdoa, semoga malam ini engkau kembali menjadi kecebong yang, meskipun bodoh, tetapi tidak sanggup melakukan kenistaan.

Siapa yang dapat mendudukan ini semua pada putaran sebenarnya putaran yang tanpa prasangka. Semuanya ditutupi kegelapan. Sebuah sandiwara dengan pemain yang sedemikian berbakat. Dan kepolosan seekor kecebong harus terjerembab dalam tipuan-tipuan kecil. Muslihat-muslihat yang sedemikian halus. Tapi, begitu seronok dipertontonkan.

Adakah kejahatan sebenarnya? Siapakah yang jahat. Seekor kecebong yang terluka atau pemain sandiwara yang dengan enteng menyayat kulit halus kecebong itu? Sehingga dari kulit halusnya itu menyembul semacam daging yang menggumpal dan mengeras. Daging itu tumbuh, dan terus tumbuh. Membentuk mahluk mengerikan yang diam-diam menyimpan sakit hati dalam dirinya.

Kodok itu terus menerus berdoa semoga dia tidak berubah menjadi monster. Sebab seringkali kepalanya dihantam palu godam. Dia menahannya agar kepalanya itu tidak pecah dan menyembul tanduk bercabang tiga yang mengerikan.

“Semua hanya sandiwara,” katamu. Kamu mungkin mengutip kata-kata dalam bait lagu-lagu lama. “Jika kita menghayati peran masing-masing, kita akan tumbuh menjadi pribadi dalam peran itu. Sementara pribadi kita yang asli, yang diam-diam kita rindukan untuk tumbuh dan membesar, tertutup oleh sandiwara kita sendiri.”

Aku hanya berharap, sedikit cahaya untuk keluar dari kegelapan…

Kata Maaf

•November 16, 2009 • Leave a Comment

Tolong kamu diam sebentar. Aku sedang belajar mengeja kata maaf. Setiap kali sebuah kesalahan tercipta, aku mengeja kembali kata-kata itu. Pelan-pelan, dengan getaran bibir yang galau.

Maka, aku berfikir kesalahan-kesalahan itu terhapus seperti tinta yang ditutupi tip-ex. Di atasnya, seolah kita hanya melihat noktah putih yang menyamarkan dengan warna kertas. Maka, setiap kita memiliki tip-ex yang begitu banyak, karena setiap saat kita bisa menorehkan rasa akit di kertas putih hati orang lain.

Tapi, diam-diam, aku juga ingin membalik kertas itu. Meskipun tip-ex yang dioleskan sedemikian tebal, dan torehan tinta hitam tertutup sama sekali, toh, sebetulnya noda hitam itu tidak benar-benar hilang. Di balik kertas, kita masih lihat tinta itu masih melekat dalam kertas putih hati orang yang kita sakiti.

Saya kadang membayangkan hati bagaikan sebuah kayu. Kita bisa saja menancapnya dengan paku. Paku-paku itu adalah kesalahan kita. Dan, kita bisa juga mencabut kembali paku-paku itu. Kata maaf adalah untuk mencabut paku-paku tersebut. Tapi, meskipun paku-paku itu telah dicabut, toh kayu-kayu itu telah rusak. Nodanya tidak mungkin hilang sama sekali, mesti kita telah mencabutnya dengan bersih.

Kata maaf, beribu-ribu maaf, adalah olesan tip-ex atau paku-paku yang dicabut. Tapi, tinta itu terlanjur menetes di halaman kertas putih. Dan paku-paku itu terlanjur menodai kayu yang polos…

“Aku memaafkanmu, kata kertas putih dan sebatang kayu…”

Yang terasa adalah rasa sesak, mengapa kita harus kembali minta maaf. Mengapa kita harus kembali menorehkan tinta dan menancapkan paku?

Uang Kembalian

•January 27, 2009 • Leave a Comment

Harga solar dan premium sudah turun dua kali. Pemerintah DKI Jakarta mengusulkan tarif angkutan umum turun Rp 500 dari harga sebelumnya. Tapi sayangnya, pihak Organda sebagai organisasi pengusaha angkutan umum, menolak penurunan sebesar itu. Mereka mau menurunkan tarif, tetapi tidak sampai Rp 500. Paling-paling yang bisa diturunkan hanya Rp200 atau Rp300 saja. Bahkan, mereka mengancam akan mogok ‘narik’ jika pemerintah tetap memaksakan menurunan tarif Rp500.

Jika Anda naik Metromini membayar ongkos Rp2000 sekali jalan, memberikan duit lembaran Rp5000-an, sudah pasti dikembalikan Rp3000. Tetapi, bisa dibayangkan jika tarif yang berlaku Rp1800, dan anda membayar dengan pecahan limaribuan, berapa kembalian yang akan kita dapatkan? Apakah kernet angkutan harus mempersiapkan diri dengan pecahan Rp200-an sebanyak mungkin agar uang kembalian mereka bisa sesuai dengan tarif yang berlaku? Atau mereka akan tetap mengembalikan Rp3000 padahal tarifnya sudah turun?

Continue reading ‘Uang Kembalian’

Kebohongan

•January 21, 2009 • Leave a Comment

Ada beberapa jenis pembohong. Pertama, mereka yang berbohong demi mendapatkan keuntungan. Pembohong jenis ini biasanya melakukan aktifitasnya didasarkan pada kesadaran penuh. Dia tahu bahwa dia sedang berbohong. Dia mengetahui target atau hasil dari kebohongan yang dia lakukan, bagaimana membangun bangunan skenario, dan sebagainya. Jika pun nanti ketahuan, resikonya, paling-paling dia tidak mendapat keuntungan dari kebohongan tersebut.

Pembohong jenis kedua adalah dia berbohong karena dia takut, bila dia berkata jujur, maka dia akan dirugikan. Kerugian ini banyak bentuknya. Bisa dimarahi, dianggap jelek atau negatif, atau kehilangan harta miliknya. Jadi dia melakukan kebohongan untuk melindungi sesuatu dalam dirinya. Ini mirip dengan jenis pertama, tetapi bukan untuk mencari keuntungan, hanya untuk menutupi sesuatu saja. Kebohongan jenis ini juga termasuk, kebohongan itu dilakukan karena dia tidak mau mengecewakan orang lain. Bukankah pandangan negatif orang tentang dirinya, bisa membuat orang lain kecewa? Sebab, kebenaran tidak hadir seperti yang dibayangkan sebelumnya.

Continue reading ‘Kebohongan’

Mimpi itu Sakit!

•November 21, 2008 • 1 Comment

“Mari kita membunuh?,” seseorang memintaku. Aku menatap bola matanya yang di dalamnya bersarang goa rahasia penuh teka-teki. Dia bicara soal langit. Aku terpekur menatap tanah. Dia bicara soal bintang. Aku mengusap dahinya, menyibakan rambutnya yang legam dan lurus. “Kita masih memiliki langit kan?,” dia bertanya. Hmm, langit hanyalah milik mereka yang berani membawa mimpinya, gumamku dalam hati. “Kalau langit ini bukan lagi milik kita, sebaiknya malam ini kita melaksanakan pembunuhan. Silahkan…,” katanya sopan seraya menyerahkan sebilah pisau. Dia tahu bagaimana mungkin aku membunuh. Sebab aku adalah pecinta kehidupan.

Aku menatapnya sekali lagi. Ketika bicara suaranya menambah nuansa kelembutan. Bukan. Bukan hanya lembut juga terkesan polos. Tetapi kenapa kadang-kadang keluar kecoak dan laba-laba dari mulutnya saat dia bicara soal keindahan? Kadang-kadang seekor tikus juga melompat dari rongga dadanya berlari masuk ke dalam got. Sampah-sampah bertebaran di udara. “Kamu sarapan apa pagi ini?,” aku memberanikan diri bertanya. Barangkali dia menelan sejenis racun yang akan membuat adrenalinnya bergejolak sehingga nafsu membunuhnya berkobar.

Continue reading ‘Mimpi itu Sakit!’

Gue Bukan Di Ciracas!

•October 28, 2008 • Leave a Comment

Kalau ada yang kesalahan dengan teknologi, mungkin salah satunya adalah kejadian hari ini. Dalam konteks ini, gue bisa saja jadi korban. Memang, teknologi itu dingin. Maksudnya diasumsikan memberikan informasi apa adanya. Tanpa ada kepentingan. Tapi, yang juga harus diingat, teknologi bisa saja salah.

Kasusnya adalah ketika ada orang yang mentautkan ponsel gue dengan program Where R U. Dengan program ini, katanya, dia bisa mendata keberadaan orang tersebut. Cara kerjanya, setiap ponsel aktif pasti berhubungan dengan sebuah BTS. Dengan program Where R U, Anda bisa mengirim SMS ke nomor tertentu dengan mencatumkan nomor ponsel orang yang akan di lacak keberadaannya. Nanti, operator akan memberi tahu di manakah posisi orang tersebut, dengan menginformasi lokasi BTS yang saat itu tersambung dengan nomor ponselnya.

Continue reading ‘Gue Bukan Di Ciracas!’

Menghapus Ingatan

•September 29, 2008 • Leave a Comment

Ketika sebuah informasi kita dengar, di bagian manakah dari otak kita yang akan menyimpannya menjadi semacam memori? Saya, mungkin juga Anda, tidak akan tahu pasti jawabnya. Tapi ini menjadi masalah ketika, entah karena apa, kita sekonyong-koyong ingin membuang ingatan tentang sesuatu. Mungkin ingatan tentang peristiwa manis, mungkin juga tragis. Otak kita seperti server besar yang menampung semua catatan.

Kita tidak tahu cara menghapus sebuah ingatan. Kalau ingatan itu seperti data atau file dalam komputer, gampang saja menghapusnya. Tinggal tekan tombol del! Dan, tuing!, data itu lenyap. Tapi, adakah tombol delete dalam otak kita?

Continue reading ‘Menghapus Ingatan’

Trauma Janda

•September 23, 2008 • Leave a Comment

kutukan atau anugerah?
terserahlah

By the way, saya punya teman yang punya kasus sama.

Sempat beberapa waktu lalu, teman saya itu tiba-tiba keranjingan luluran, lantaran dia ngerasa kulitnya sudah nggak kinclong lagi di usianya yang menjelang senja. Berbulan-bulan, dia eksplorasi semua salon di seantero Jabotabek yang menyediakan fasilitas lulur-melulur… Tapi dia serta merta menghentikan kegiatan itu gara-gara, di lokasi terakhir, si embak tukang lulurnya begitu bangga menceritakan keadaan dirinya sebagai janda.

Si Muti, teman saya tersebut, ngerasa bahwa janda adalah sinyal bahaya, di mana dia mesti berhenti. Tatkala naik sebuah mobil omprengan menuju kantor, dia turun sebelum sampai tujuan gara-gara tahu bahwa ibu-ibu cerewet yang duduk di sebelahnya adalah janda. Lalu, dia menolak untuk mengantarkan bokapnya ke dokter langganan setelah mendapat info bahwa bu dokter itu seorang janda. Dia bilang ke bapaknya: “Pak mendingan jangan berobat ke sini deh, masak dokter spesialis jantung kok merokok!”

Dia juga sedang berancang-ancang untuk pindah agama, setelah tahu bahwa penceramah favorit dia kagumi, yang sering muncul di TV, itu ternyata seorang janda….

Saya sendiri nggak tahu kenapa. Kalaupun dia menjelaskan panjang lebar tentang segala hal yang menjadi pijakan teori ajaibnya itu, saya nggak bakal mengerti. Bisa jadi, saya nggak pernah sepinter dugaannya.

Ah, Muti, if you read this, how long will you waste your life this way. Sampai kapan dirimu ngumpet di balik dinding-dinding tebel yang kau bangun sendiri, nak! Peradaban di luar sana begitu indah, jadi keluarlah!

Buat Endah, maaf jadi curhat! hihi…

Tulisan ini diambil dari komentar Burung di http://roromendut.wordpress.com/2007/12/25/kutukan-janda/#comment-981

Potong Rambut

•September 11, 2008 • 3 Comments

Kepercayaan seperti apa yang Anda berikan ketika ada orang tidak dikenal membawa benda tajam beraksi di belakang kepala kita? Misalkan, dia tiba-tiba memotong kuping Anda? Atau mengiris urat leher Anda dengan silet. Yang mungkin terjadi, jika Anda perempuan dan dikira Kuntilanak, bisa saja dia menusuk ubun-ubun Anda dengan gunting. Itu adalah cara paling kuno untuk membunuh Kuntilanak. Sekarang film-film Indonesia menemukan ide lain : bahwa Kuntilanak bisa juga diusir oleh lelaki yang menggunakan kopiah putih dan di lehernya melilit sorban ala Giring Nidji, dengan mulut komat-kamit seperti makan permen karet.

Kembali ke pikiran di atas tadi. Kini saya duduk di sebuah kursi pesakitan. Di depan saya sebuah cermin besar. Setiap kali memandang cermin itu, saya berharap pantulan bayangannya sedikit berbohong, maksudnya tidak jujur-jujur amat menampilkan wajah saya yang asli. Melalui cermin saya juga melihat ada orang berdiri di belakang. Dia yang memakaikan saya sebuah pakaian, mirip jubah Superman, dengan posisi terbalik. Lantas –crashhh! Gunting di tanganya bekerja memotong rambut saya.

Itu sedikit upacara potong rambut yang sangat menegangkan. Sebab, potong rambut bukan seperti memotong rumput. Rambut adalah bagian dari tubuh kita. Dia tumbuh dari sari makanan yang kita makan. Untuk sebagian orang, dia adalah mahkota, sebuah simbol kecantikan. Mungkin Sandra Dewi atau Dewi Sandra akan sedikit hilang kecantikannya jika kepalanya tidak ditumbuhi rambut. Sedangkan rumput paling hebat cuma jadi makanan kuda!

Continue reading ‘Potong Rambut’

Ciuman Sehabis Makan Jengkol

•September 9, 2008 • 1 Comment

“Bagaimana rasanya jika ciuman dilakukan dengan pasangan yang baru saja makan jengkol?” Puihhhh…! Hooekkkk! Busyet, pertanyaan ini mungkin membuat gilingan molen di perut bergelinjang. Barangkali ketika Anda membayangkan aroma jengkol yang menusuk rasanya saja sudah tujuh keliling. Apalagi membayangkan aroma itu ditukarkan langsung ke mulut kita melalui mulut orang lain. Masa dia yang makan jengkol, kita yang terkena baunya…Makanya jika ilmu Anda belum sampai titik tertentu jangan coba-coba membayangkannya. Mungkin bagi Anda ciuman jenis itu bukan sebuah kemesraan, tetapi termasuk kategori kekejaman. Betapa kejamnya perilaku yang tidak mengindahkan tata krama wewangian dalam upacara ciuman sepasang kekasih.

Atau, pernahkah Anda bayangkan sepasang kekasih berbuka puasa dengan berciuman? Busyet, ini jenis keanehan lain lagi. Sudahlah, jangan dibayangkan. Sebab saya saja tidak ingin membayangkannya. Selain bisa menimbukan perasaan tidak enak, juga tidak pantas puasa-puasa begini kita ngomong soal cium-ciuman. Juga jangan bertanya siapa saja yang sudah pernah menjalankan upacara tersebut di atas, itu rahasia. Hoeeekkkk!

Continue reading ‘Ciuman Sehabis Makan Jengkol’